You are currently viewing Empat Strategi Pemimpin Dunia Menghadapi Ketidakpastian Global

Empat Strategi Pemimpin Dunia Menghadapi Ketidakpastian Global

Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menjadi ajang berkumpulnya para pemimpin dunia untuk merespons dinamika global yang semakin sulit diprediksi. Di tengah tekanan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan konflik kawasan, empat kepala pemerintahan menyampaikan pandangan strategis mengenai arah dunia ke depan.

Berdasarkan rangkuman dari laman resmi WEF, berikut sejumlah pendekatan yang disoroti dalam forum Davos 2026:

1. Geopolitik sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi

Perdana Menteri Maroko, Aziz Akhannouch, menilai ketidakpastian global tidak selalu menjadi penghambat, melainkan dapat diubah menjadi peluang. Menurutnya, letak geografis sebuah negara bukan sekadar posisi di peta, tetapi modal strategis yang dapat dimaksimalkan.

Maroko, yang berada di titik temu Eropa, Afrika, dan Samudra Atlantik, diposisikan sebagai simpul konektivitas lintas kawasan. Namun, Akhannouch menegaskan keunggulan geografis harus didukung fondasi ekonomi yang kokoh, termasuk reformasi fiskal dan kebijakan jangka panjang yang berani agar pembangunan dapat berkelanjutan.

2. Kolaborasi lintas sektor sebagai kunci solusi global

Presiden Swiss, Guy Parmelin, menekankan bahwa tantangan global yang semakin kompleks tidak bisa ditangani secara terpisah-pisah. Ia menyerukan kerja sama yang lebih menyeluruh antara masyarakat sipil, komunitas ilmiah, pelaku ekonomi, dan pembuat kebijakan.

Menurut Parmelin, tanpa sinergi antarsektor, solusi yang dihasilkan hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan. Pendekatan kolaboratif dinilai menjadi syarat utama untuk menghadirkan kebijakan yang efektif dan berkelanjutan di tingkat global.

3. Menjaga multilateralisme di tengah kerasnya persaingan global

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyoroti perubahan lanskap kekuatan dunia yang semakin kompetitif dan keras. Dalam pandangannya, kondisi tersebut justru menuntut komitmen yang lebih kuat terhadap multilateralisme yang nyata dan berfungsi.

Macron menegaskan bahwa kepatuhan pada aturan internasional serta diplomasi bersama bukan semata-mata soal nilai moral, melainkan kepentingan strategis bersama. Menurutnya, multilateralisme menjadi benteng untuk mencegah dominasi kekuatan militer dan politik koersif dalam hubungan antarnegara.

4. Menata ulang sistem keamanan kawasan

Dari sudut pandang Timur Tengah, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menilai pendekatan keamanan yang ada saat ini masih bersifat reaktif. Ia menekankan bahwa stabilitas tidak akan tercapai jika upaya perdamaian hanya fokus meredam konflik tanpa menyelesaikan akar masalahnya.

Ia menyerukan perlunya kesatuan visi antarnegara di kawasan Tuna55 untuk merancang ulang arsitektur keamanan regional. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem yang tidak hanya mencegah konflik terbuka, tetapi juga mengurangi potensi ancaman antarnegara secara struktural.

Leave a Reply