You are currently viewing Fibermaxxing Viral di Media Sosial, Ahli Gizi Beberkan Risiko Kesehatannya

Fibermaxxing Viral di Media Sosial, Ahli Gizi Beberkan Risiko Kesehatannya

Fibermaxxing Viral di Media Sosial, Ahli Gizi Beberkan Risiko Kesehatannya

Media sosial kembali melahirkan tren kesehatan yang menyedot perhatian publik. Kali ini, istilah fibermaxxing menjadi viral di berbagai platform, mulai dari TikTok hingga Instagram. Tren ini mendorong orang untuk mengonsumsi serat dalam jumlah sebanyak-banyaknya setiap hari, dengan klaim mampu melancarkan pencernaan, menurunkan berat badan, hingga menjaga kesehatan usus secara optimal.

Konten kreator menampilkan menu harian penuh sayur, buah, biji-bijian, dan suplemen serat. Tak sedikit yang mengaku merasa lebih ringan, kenyang lebih lama, dan jarang mengalami sembelit. Namun, di balik popularitasnya, para ahli gizi mengingatkan bahwa segala sesuatu yang berlebihan tetap berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Apa Itu Fibermaxxing? Media Sosial

Fibermaxxing secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya memaksimalkan asupan serat dalam pola makan harian. Jika rekomendasi serat harian berkisar antara 25–38 gram per hari untuk orang dewasa, tren ini kerap mendorong konsumsi jauh di atas angka tersebut.

Pendukung fibermaxxing beranggapan bahwa semakin banyak serat yang dikonsumsi, semakin sehat tubuh, terutama sistem pencernaan. Serat dipercaya mampu membantu detoksifikasi alami, menurunkan kadar kolesterol, menstabilkan gula darah, dan mendukung kesehatan mikrobiota usus.

Mengapa Fibermaxxing Mudah Viral?

Ada beberapa alasan mengapa tren ini cepat menyebar. Pertama, serat memang memiliki citra positif dalam dunia kesehatan. Kedua, hasil yang diklaim sering kali terasa cepat, seperti perut terasa lebih kenyang dan buang air besar lebih teratur. Ketiga, tren ini relatif mudah diikuti karena bahan makanannya dianggap “sehat” dan alami.

Selain itu, narasi “lebih banyak serat = lebih sehat” terdengar sederhana dan meyakinkan. Dalam format video singkat, pesan tersebut mudah diterima tanpa penjelasan mendalam mengenai batas aman dan kebutuhan individu yang berbeda-beda.

Manfaat Serat yang Tidak Bisa Dipungkiri

Ahli gizi sepakat bahwa serat merupakan komponen penting dalam pola makan seimbang. Serat membantu melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, dan memberi rasa kenyang lebih lama sehingga membantu pengendalian berat badan. Serat larut juga berperan dalam menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan membantu mengontrol kadar gula darah.

Selain itu, asupan serat yang cukup mendukung kesehatan usus dengan menjadi “makanan” bagi bakteri baik. Usus yang sehat berhubungan dengan daya tahan tubuh yang lebih baik serta penurunan risiko penyakit kronis.

Ketika Serat Dikonsumsi Berlebihan

Meski bermanfaat, ahli gizi mengingatkan bahwa konsumsi serat secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah perut kembung, begah, dan nyeri perut. Ini terjadi karena fermentasi serat oleh bakteri usus menghasilkan gas berlebih.

Dalam beberapa kasus, asupan serat yang terlalu tinggi juga dapat memicu diare atau justru sembelit jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup. Serat menyerap air, sehingga kekurangan cairan dapat membuat feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan.

Risiko Gangguan Penyerapan Nutrisi

Ahli gizi juga menyoroti risiko lain yang jarang disadari, yakni gangguan penyerapan nutrisi. Konsumsi serat dalam jumlah sangat tinggi dapat mengikat mineral penting seperti zat besi, kalsium, dan seng, sehingga penyerapannya di usus menjadi kurang optimal.

Jika kondisi ini berlangsung lama, terutama pada kelompok rentan seperti remaja, ibu hamil, dan lansia, risiko kekurangan nutrisi tertentu bisa meningkat. Inilah alasan mengapa pola makan ekstrem, meskipun berbasis bahan sehat, tetap perlu dikaji secara menyeluruh.

Tidak Semua Orang Cocok dengan Fibermaxxing

Setiap orang memiliki kondisi tubuh dan sistem pencernaan yang berbeda. Pada individu dengan sindrom iritasi usus (IBS), gangguan lambung, atau masalah pencernaan tertentu, asupan serat tinggi justru bisa memperparah gejala.

Ahli gizi menekankan bahwa kebutuhan serat sebaiknya disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, serta kondisi kesehatan. Meniru pola makan influencer tanpa memahami kebutuhan pribadi berisiko menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang.

Peran Media Sosial dalam Membentuk Persepsi Kesehatan

Fenomena fibermaxxing kembali menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi tentang kesehatan. Informasi yang disajikan sering kali bersifat parsial, menonjolkan manfaat tanpa membahas risiko.

Ahli gizi mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi. Tren kesehatan di media sosial Tuna55 sebaiknya dijadikan inspirasi, bukan aturan mutlak. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik sebelum mengubah pola makan secara drastis.

Cara Aman Meningkatkan Asupan Serat

Daripada mengikuti fibermaxxing secara ekstrem, ahli gizi menyarankan pendekatan yang lebih seimbang. Tingkatkan asupan serat secara bertahap, misalnya dengan menambah porsi sayur dan buah, mengganti nasi putih dengan biji-bijian utuh, serta mengonsumsi kacang-kacangan dalam jumlah wajar.

Pastikan juga asupan cairan tercukupi, minimal 6–8 gelas air per hari, agar serat dapat bekerja optimal dalam sistem pencernaan. Variasikan sumber serat agar tubuh mendapatkan manfaat yang menyeluruh tanpa risiko berlebihan.

Seimbang Lebih Baik dari Ekstrem

Fibermaxxing mungkin terdengar menarik dan menjanjikan, namun para ahli gizi menegaskan bahwa kesehatan tidak dibangun dari prinsip “semakin banyak semakin baik”. Serat memang penting, tetapi harus dikonsumsi sesuai kebutuhan tubuh.

Alih-alih mengejar tren, membangun pola makan seimbang, beragam, dan sesuai kondisi individu jauh lebih aman dan berkelanjutan. Media sosial boleh menjadi sumber inspirasi, tetapi keputusan terkait kesehatan sebaiknya tetap berpijak pada ilmu dan panduan profesional.

Leave a Reply