Wilayah udara Iran kembali dioperasikan pada Kamis waktu setempat setelah sempat ditutup sementara selama beberapa jam. Meski demikian, keputusan pembukaan kembali tersebut belum sepenuhnya mengembalikan kepercayaan maskapai internasional, yang masih memilih menghindari rute udara di atas Iran akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Penutupan ruang udara berlangsung sekitar lima jam dan berakhir pada pukul 03.30 UTC atau setara dengan 22.30 EST pada Rabu malam. Selama periode itu, hampir seluruh penerbangan dari dan menuju Iran dihentikan. Hanya sejumlah penerbangan internasional tertentu yang diizinkan berangkat dari Teheran setelah mendapat persetujuan khusus dari otoritas penerbangan sipil setempat.
Mengacu pada laporan CNBC, Kamis (15/1/2026), data FlightRadar24 menunjukkan bahwa hingga Kamis pagi waktu UTC, lalu lintas penerbangan di wilayah udara Iran masih sangat terbatas. Aktivitas yang terpantau sebagian besar berasal dari maskapai domestik Iran, sementara operator asing masih mengambil sikap menunggu.
Situasi ini tak lepas dari memanasnya hubungan politik antara Teheran dan Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya melontarkan pernyataan keras terkait tindakan aparat keamanan Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di berbagai kota. Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan campur tangan Amerika Serikat jika kekerasan terhadap warga sipil terus terjadi.
Kekhawatiran Eskalasi Konflik
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik terbuka yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, termasuk sektor transportasi dan logistik global. Amerika Serikat dilaporkan telah memindahkan sebagian personel serta peralatan militernya dari beberapa pangkalan di Timur Tengah, menyusul ancaman Iran untuk menyerang kepentingan AS jika terjadi agresi militer.
Namun, sikap Trump kemudian terkesan lebih moderat. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu malam, ia mengklaim telah memperoleh informasi bahwa aksi pembunuhan terhadap demonstran di Iran telah dihentikan. Pemerintah AS, kata Trump, akan terus memantau perkembangan sebelum mengambil langkah lanjutan.
Di sisi lain, dunia penerbangan merasakan dampak langsung dari ketidakpastian ini. Sejumlah maskapai internasional memilih membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan mereka guna menghindari wilayah udara Iran. Maskapai terbesar India, IndiGo, mengonfirmasi bahwa sebagian penerbangan internasionalnya terdampak oleh penutupan sementara tersebut.
Maskapai Diminta Hindari Iran
Beberapa negara juga mengeluarkan imbauan keselamatan. Pemerintah Jerman, misalnya, meminta maskapai nasionalnya untuk tidak melintasi wilayah udara Iran. Lufthansa Group menyatakan akan tetap menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga situasi dinilai aman, serta membatalkan sejumlah penerbangan sebagai langkah pencegahan.
Amerika Serikat sendiri masih memberlakukan larangan bagi seluruh penerbangan komersialnya untuk melewati wilayah udaraIran. Maskapai internasional lain seperti Emirates, Qatar Airways, dan Turkish Airlines juga dilaporkan menghentikan sebagian layanan penerbangan ke Iran dalam beberapa hari terakhir.
Ketegangan politik yang terjadi saat ini berakar dari krisis ekonomi yang semakin menekan Iran. Sejak akhir tahun lalu, demonstrasi besar pecah setelah nilai tukar mata uang rial terperosok ke titik terendah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memicu lonjakan biaya hidup dan berkembang menjadi gelombang protes terhadap pemerintahan.
Menurut kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat, bentrokan selama rangkaian demonstrasi telah menyebabkan sedikitnya 2.571 korban jiwa. Situasi ini terus menjadi perhatian komunitas internasional dan dinilai berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi, perdagangan, serta industri penerbangan di kawasan Timur Tengah. Tuna55