You are currently viewing Ketika Era Digital Grup Chat Jadi Pintu Masuk Radikalisasi Anak, Densus 88 Angkat Alarm Bahaya

Ketika Era Digital Grup Chat Jadi Pintu Masuk Radikalisasi Anak, Densus 88 Angkat Alarm Bahaya

Ancaman di era digital tidak selalu datang dalam bentuk serangan siber atau penipuan daring. Terkadang, bahaya menyusup perlahan lewat grup chat tertutup yang tampak “biasa”. Inilah yang kini diungkap oleh Densus 88 Antiteror Polri: sebuah komunitas internasional yang menargetkan anak-anak dan remaja sebagai sasaran radikalisasi.

Komunitas bernama True Crime Community terdeteksi menyebarkan ideologi ekstrem dan glorifikasi kekerasan. Jaringannya luas dan bercabang, terhubung dengan puluhan grup lain yang masih aktif. Di Indonesia saja, aparat mengidentifikasi sedikitnya 70 anak yang telah terpapar.

Juru bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa pola ini sangat berbahaya karena menyasar usia yang masih labil secara emosional dan psikologis. “Paparan terjadi secara perlahan, lewat percakapan, simbol, dan konten yang awalnya dianggap sekadar hiburan,” ujarnya dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta.

Dari Rasa Penasaran ke Kekerasan Melalui Era Digital

Menurut Densus 88, radikalisasi digital pada anak sering diawali rasa ingin tahu. Anak mulai tertarik pada simbol ekstrem, figur pelaku kekerasan, atau narasi yang membenarkan tindakan brutal. Seiring waktu, ketertarikan ini berkembang menjadi identifikasi diri.

Anak mulai menarik diri dari lingkungan sekitar dan merasa lebih diterima di komunitas daringnya. Konten sadis dikonsumsi berulang, empati memudar, dan kekerasan mulai dianggap wajar. Dalam beberapa kasus, ketertarikan itu bahkan diwujudkan lewat atribut fisik seperti replika senjata.

Densus 88 mencontohkan insiden di SMAN 72 Jakarta, di mana pelaku meniru figur ekstrem dari luar negeri. Kasus ini menunjukkan bagaimana ideologi kekerasan di ruang digital bisa menyeberang ke dunia nyata.

Pengawasan Bukan Larangan, Tapi Pendampingan

Aparat menegaskan bahwa orang tua memegang peran kunci dalam memutus rantai ini. Reaksi marah berlebihan saat ponsel diperiksa, menurut Densus 88, sering menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun pendekatan keras dinilai justru kontraproduktif. Orang tua diminta hadir sebagai pendamping, bukan penghakim. Dialog terbuka, literasi digital, dan penanaman nilai kemanusiaan menjadi benteng utama Tuna55.

Di tengah algoritma yang terus mendorong konten ekstrem dan ruang obrolan tertutup yang sulit dipantau, kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan anak di dunia digital adalah tanggung jawab bersama. Radikalisasi bukan lagi ancaman jauh—ia bisa tumbuh diam-diam, dari layar kecil di genggaman tangan.

Leave a Reply