Tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik bagi robotika AI berbasis kecerdasan buatan. Jensen Huang, CEO Nvidia, menilai AI fisik akan mengalami lonjakan popularitas serupa dengan ChatGPT, ketika teknologi mulai benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari dalam wujud robot cerdas.
Di panggung CES, visi tersebut diperlihatkan melalui robot-robot kecil dengan kemampuan memahami perintah visual dan bahasa, lalu meresponsnya lewat gerakan nyata. Konsep ini menandai pergeseran besar dari AI berbasis layanan digital menuju dunia fisik.
Profesor Jochen Wirtz dari Singapura menilai bahwa selama ini transformasi AI memang terkonsentrasi pada layanan daring. Namun, dengan kemajuan model AI terbaru, robot kini dapat bertindak sebagai agen mandiri yang mampu berinteraksi langsung dengan manusia dan lingkungan. Menurutnya, adopsi luas teknologi ini hanya tinggal menunggu waktu.
Lompatan Besar dari Negeri Tirai Bambu
China muncul sebagai pemain paling agresif dalam persaingan ini. Produksi robot global didominasi oleh perusahaan-perusahaan China, dengan fokus baru pada pengembangan robot humanoid. Teknologi ini diyakini mampu merevolusi pabrik, gudang, hingga sektor layanan.
Para analis memperkirakan produksi komersial robot humanoid dapat dimulai dalam waktu dekat, dengan jumlah yang berpotensi melampaui robot industri konvensional pada dekade berikutnya. Namun, euforia ini dibarengi kehati-hatian. Pemerintah China secara terbuka mengingatkan risiko investasi berlebihan yang dapat memicu gelembung teknologi.
Di sisi lain, keterbatasan teknis tetap menjadi tantangan. Banyak aktivitas sederhana manusia masih sulit ditiru robot karena perbedaan struktur dan mekanisme gerak. Hal ini membuat robot humanoid belum sepenuhnya siap menggantikan pekerja manusia dalam skala besar.
Realitas Asia Tenggara
Berbeda dengan China, Asia Tenggara menempuh jalur yang lebih pragmatis. Robot telah lama digunakan di sektor manufaktur, terutama untuk pekerjaan berulang dan presisi tinggi. Vietnam dan Thailand menjadi contoh negara dengan tingkat adopsi otomatisasi yang relatif maju.
Namun, untuk teknologi robot humanoid tuna55, sebagian besar perusahaan masih bersikap menunggu. Fokus utama tetap pada sistem robotik yang spesifik, efisien, dan mendukung ekspansi bisnis tanpa investasi berlebihan. Biaya tenaga kerja yang relatif rendah di banyak negara Asia Tenggara juga membuat adopsi robot canggih kurang mendesak.
Selain faktor ekonomi, regulasi dan standar keselamatan turut memengaruhi. Di sektor berisiko tinggi seperti jasa bawah air, robot sering kalah bersaing dengan tenaga manusia yang lebih murah, meski risikonya lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kecepatan adopsi di lapangan.
Meski demikian, pergeseran tetap tak terelakkan. Seiring relokasi pabrik global ke Asia Tenggara, kebutuhan akan otomatisasi diprediksi meningkat. Tantangannya bukan sekadar mengganti manusia dengan robot, melainkan menciptakan sistem kolaboratif yang memperkuat produktivitas, konsistensi, dan keberlanjutan tenaga kerja di kawasan ini.